Saatnya Ku Lukis Duniaku
Tanpa terasa ini sudah memasuki hari ke-4 aku di rawat di Rumah Sakit ini. Aku sudah cukup menghafal wajah-wajah suster dan ibu-ibu teman se ruangan Bunda. Hari-hari yang lalu adalah rutinitas yang mungkin cukup meletihkan ayah. Bagaimana tidak? Ayah setiap hari harus pulang pergi ke rumah sakit untuk menemani Bunda, sebab peraturan di rumah sakit ini tidak memperkenankan pasien persalinan di temani meski oleh keluarga bahkan suaminya. Karenanya ayah memanfaatkan waktu-waktu besuk untuk bisa menemani bunda.
Tidak jarang ayah bermain kucing-kucingan sama petugas security disini. Ketika jam besuk usai, maka ayah keluar ruangan dan biasanya langsung menuju ruangan khusus tempat bayi-bayi diistirahatkan. Setelah petugas selesai men-sweeping ruangan, selang tidak berapa lama ayah pun kembali masuk ke ruangan. Dan sepertinya hal ini sudah menjadi trik yang biasa dilakukan keluarga pasien disini.
Kanapa ayah juga terpaksa melakukannya, karena ayah baru bisa ketemu aku pada saat jam besuk sudah selesai. Jadi disini itu, pada saat jam besuk pengunjung hanya berkesempatan ketemu langsung dengan bundanya. Sedangkan mereka tidak bisa ketemu dengan bayi yang setiap waktu besuk pasti sengaja di’aman’kan di ruang sterilisasi. Alasan pihak rumah sakit adalah untuk menjamin kondisi bayi tetap sehat dan steril. Memang beralasan sih. Kan orang yang berkunjung ke rumah sakit rentan membawa segala macam debu, bakteri, atau bahkan virus dari luar sana.
Aku juga seneng banget saat tiba usainya jam besuk. Karena suster-suster yang baik itu pasti akan menggendong aku dan mengantarkannya ke tempat bunda. Aku jadi sumringah ketika memasuki ruangan, disanan bunda dan ayah sudah menantiku dengan senyum yang merekah. "Salwa…." demikian mereka langsung menyambutku. Ayah langsung mengambilku dari gendongan suster karena rasa kangen yang banget, itu kalo aku lagi nggak kelaperan. Tapi kalo aku lagi laper, maka bunda dulu yang mengambil alih untuk kasih ASI ke aku.
Biasanya ayah benar-benar memanfaatkan waktu ketemu aku dengan sebaik-baiknya, karena ayah juga tidak bisa berlama-lama. Paling lama 1 jam, itu pun kalo ada keluarga pasien lain yang masih ada diruangan tersebut. Ayah biasanya menciumi aku dengan lembut dan sayang, membelai dan mengelusku, serta mengajakku ngobrol walaupun aku belum bisa menimpali obrolan ayah. dan tidak ketinggalan, ayah pasti menyempatkan untuk mengambil gambarku dengan HP Benq-Siemens S88 kesayangannya.
Ayah pun harus pulang karena tidak enak berlama-lama, lagian kondisi bunda juga relatif stabil dan fit pasca operasi sehingga tidak ada yang perlu terlalu dikhawatirkan. Ketika ayah pulang, giliran bunda yang berpuas-puas bermain denganku. Bunda menggendong dan menciumi aku, menatapku dan mengajakku bercanda. Aku juga memanfaatkannya untuk menghafal wajah bunda, sebab penglihatanku memang belum sempurna. Wajah bunda menenangkan.
Dimalam ketiga, aku diperbolehkan suster untuk tidur bareng bunda. Meski ranjang pasien tidak terlalu besar namun cukup muat menampung bunda dan tubuhku yang masih mungil dengan dibalut bedong. Aku senang bisa bobo’ bareng bunda, karena aku jadi bisa mendapatkan ASI kapan pun aku mau. Aku mendapatkan ASI baru sejak hari kedua, karena bunda kondisinya tidak diizinkan banyak bergerak pasca operasi caessar-nya.
Selama di Rumah Sakit ini, banyak teman-teman bunda dan ayah yang datang menengok. Banyak juga yang memberiku hadiah. "Makasih ya atas hadiahnya, Salwa seneeeeeeeng banget..". Sayang mereka tidak bisa menemui aku dari dekat, kecuali hanya lewat kaca jendela yang terpasang cukup lebar di ruang sterilisasi bayi. Untungnya ayah menyempatkan membawa laptop yang selalu ayah putar slide photo-ku saat-saat jam besuk. Sehingga mereka bisa melihat ‘gaya-gaya’ku yang lucu dan menggemaskan
.
Emmm, hari ini aku dan Bunda akan pulang. Dan aku sangat merindukan untuk melihat dunia ‘luar’ dan bisa berkumpul dengan keluarga. Kata ayah dan bunda, kami akan singgah terlebih dahulu di rumah nenek selama satu pekan untuk beradaptasi. Karena bunda juga masih membutuhkan kehadiran orang lain, dalam hal ini nenek, tante, dan lainnya untuk membantu merawatku karena kondisi bunda juga masih lemah dan banyak keterbatasan.
Aku dan Bunda bersiap-siap, ayah sudah menyiapkan baju mungil yang manis untukku. Demikian pula untuk Bunda, ayah sudah menyiapkannya. Setelah selesai didandani oleh suster, aku dan Bunda pun menyusuri loron-lorong rumah sakit dengan ditemani nenek menuju kendaraan yang sudah ayah siapkan. Aku menyempatkan melihat sekeliling dan sekilas wajah-wajah suster yang telah merawatku. "Ini adalah tempat yang sangat bersejarah bagiku, namun.. aku harus melukis sejarah-sejarah lain yang lebih indah dan bermakna."
"Bismillahirrahmaanirrahiim…" aku pun melangkah keluar meninggalkan bangunan rumah sakit yang telah menjadi saksi kelahiranku.

