Perjalananku

April 22, 2007

Saatnya Ku Lukis Duniaku

Filed under: Uncategorized

Tanpa terasa ini sudah memasuki hari ke-4 aku di rawat di Rumah Sakit ini. Aku sudah cukup menghafal wajah-wajah suster dan ibu-ibu teman se ruangan Bunda. Hari-hari yang lalu adalah rutinitas yang mungkin cukup meletihkan ayah. Bagaimana tidak? Ayah setiap hari harus pulang pergi ke rumah sakit untuk menemani Bunda, sebab peraturan di rumah sakit ini tidak memperkenankan pasien persalinan di temani meski oleh keluarga bahkan suaminya. Karenanya ayah memanfaatkan waktu-waktu besuk untuk bisa menemani bunda.

Tidak jarang ayah bermain kucing-kucingan sama petugas security disini. Ketika jam besuk usai, maka ayah keluar ruangan dan biasanya langsung menuju ruangan khusus tempat bayi-bayi diistirahatkan. Setelah petugas selesai men-sweeping ruangan, selang tidak berapa lama ayah pun kembali masuk ke ruangan. Dan sepertinya hal ini sudah menjadi trik yang biasa dilakukan keluarga pasien disini.

Kanapa ayah juga terpaksa melakukannya, karena ayah baru bisa ketemu aku pada saat jam besuk sudah selesai. Jadi disini itu, pada saat jam besuk pengunjung hanya berkesempatan ketemu langsung dengan bundanya. Sedangkan mereka tidak bisa ketemu dengan bayi yang setiap waktu besuk pasti sengaja di’aman’kan di ruang sterilisasi. Alasan pihak rumah sakit adalah untuk menjamin kondisi bayi tetap sehat dan steril. Memang beralasan sih. Kan orang yang berkunjung ke rumah sakit rentan membawa segala macam debu, bakteri, atau bahkan virus dari luar sana.

Aku juga seneng banget saat tiba usainya jam besuk. Karena suster-suster yang baik itu pasti akan menggendong aku dan mengantarkannya ke tempat bunda. Aku jadi sumringah ketika memasuki ruangan, disanan bunda dan ayah sudah menantiku dengan senyum yang merekah. "Salwa…." demikian mereka langsung menyambutku. Ayah langsung mengambilku dari gendongan suster karena rasa kangen yang banget, itu kalo aku lagi nggak kelaperan. Tapi kalo aku lagi laper, maka bunda dulu yang mengambil alih untuk kasih ASI ke aku.

Biasanya ayah benar-benar memanfaatkan waktu ketemu aku dengan sebaik-baiknya, karena ayah juga tidak bisa berlama-lama. Paling lama 1 jam, itu pun kalo ada keluarga pasien lain yang masih ada diruangan tersebut. Ayah biasanya menciumi aku dengan lembut dan sayang, membelai dan mengelusku, serta mengajakku ngobrol walaupun aku belum bisa menimpali obrolan ayah. dan tidak ketinggalan, ayah pasti menyempatkan untuk mengambil gambarku dengan HP Benq-Siemens S88 kesayangannya.

Ayah pun harus pulang karena tidak enak berlama-lama, lagian kondisi bunda juga relatif stabil dan fit pasca operasi sehingga tidak ada yang perlu terlalu dikhawatirkan. Ketika ayah pulang, giliran bunda yang berpuas-puas bermain denganku. Bunda menggendong dan menciumi aku, menatapku dan mengajakku bercanda. Aku juga memanfaatkannya untuk menghafal wajah bunda, sebab penglihatanku memang belum sempurna. Wajah bunda menenangkan.

Dimalam ketiga, aku diperbolehkan suster untuk tidur bareng bunda. Meski ranjang pasien tidak terlalu besar namun cukup muat menampung bunda dan tubuhku yang masih mungil dengan dibalut bedong. Aku senang bisa bobo’ bareng bunda, karena aku jadi bisa mendapatkan ASI kapan pun aku mau. Aku mendapatkan ASI baru sejak hari kedua, karena bunda kondisinya tidak diizinkan banyak bergerak pasca operasi caessar-nya.

Selama di Rumah Sakit ini, banyak teman-teman bunda dan ayah yang datang menengok. Banyak juga yang memberiku hadiah. "Makasih ya atas hadiahnya, Salwa seneeeeeeeng banget..". Sayang mereka tidak bisa menemui aku dari dekat, kecuali hanya lewat kaca jendela yang terpasang cukup lebar di ruang sterilisasi bayi. Untungnya ayah menyempatkan membawa laptop yang selalu ayah putar slide photo-ku saat-saat jam besuk. Sehingga mereka bisa melihat ‘gaya-gaya’ku yang lucu dan menggemaskan emoticon.

Emmm, hari ini aku dan Bunda akan pulang. Dan aku sangat merindukan untuk melihat dunia ‘luar’ dan bisa berkumpul dengan keluarga. Kata ayah dan bunda, kami akan singgah terlebih dahulu di rumah nenek selama satu pekan untuk beradaptasi. Karena bunda juga masih membutuhkan kehadiran orang lain, dalam hal ini nenek, tante, dan lainnya untuk membantu merawatku karena kondisi bunda juga masih lemah dan banyak keterbatasan.

Aku dan Bunda bersiap-siap, ayah sudah menyiapkan baju mungil yang manis untukku. Demikian pula untuk Bunda, ayah sudah menyiapkannya. Setelah selesai didandani oleh suster, aku dan Bunda pun menyusuri loron-lorong rumah sakit dengan ditemani nenek menuju kendaraan yang sudah ayah siapkan. Aku menyempatkan melihat sekeliling dan sekilas wajah-wajah suster yang telah merawatku. "Ini adalah tempat yang sangat bersejarah bagiku, namun.. aku harus melukis sejarah-sejarah lain yang lebih indah dan bermakna."

"Bismillahirrahmaanirrahiim…" aku pun melangkah keluar meninggalkan bangunan rumah sakit yang telah menjadi saksi kelahiranku.   

April 18, 2007

Rabu Pertama

Filed under: Uncategorized

Hari ini adalah hari pertamaku menginjakkan kaki di dunia baru yang masih asing. Sejak pertemuan pertamaku dengan ayah dini hari tadi, aku belum bisa bertemu bunda. Aku hanya sempat menatapnya saat bunda masih lemah sesaat setelah aku keluar dari rahimnya. Bunda pun kulihat belum sadar benar saat memandangku pertama kali karena efek bius.

Aku saat ini berada di ruang Perinatologi untuk di analisis kesehatanku secara total. Aku ditempatkan di ranjang dorong bayi dengan pencahayaan yang penuh dengan warna biru. Ruanganya memang membuatku terasa lebih hangat. Kata orang ini adalah salah satu bentuk ruang inkubator, untuk menghangatkan bayi kecil yang baru keluar seperti aku ini. Ada beberapa bayi seusiaku yang juga berada dalam ruangan itu. Mereka semua lucu-lucu, hi..hi..hi. Cuman ngga sedikit yang cengeng, ngga’ kaya aku. Kalo aku ngga’ cengeng. Soalnya sejak dalam kandungan ayah sudah sering kasih pesan dan nasehat supaya ketika lahir nanti aku ngga cengeng atau gampang nangis.

Sementara bunda baru keluar dari ruang operasi tepat menjelang subuh. Kondisi bunda sudah sadar 100%. Tapi fisiknya lemah dan belum bisa gerak sama sekali. Pukul 07.00 ayah sudah datang menjenguk bunda. Oiya, ayah sempet pulang dulu subuh tadi, soalnya kasian juga belum istirahat sama sekali sejak kemarin pagi. Moga ayah sehat selalu.

Jika sesuai jadwal aku harusnya sudah keluar dari ruang ini pukul 10 pagi. Soalnya aku dah kangen pengin ketemu bunda. Dan aku yakin, bunda juga kangen banget pengin kecup kening aku. Namun karena hari itu kebetulan banyak persalinan maka penanganannya agak lama karena mungkin harus sedikit ngantri. Bayangin, tidak kurang ada 6 bayi yang lahir di RS. Sari Asih bersamaan dengan kelahiranku. Apalagi ditambah yang lahir ehari sebelumnya, waah pokoknya memang lagi padat pasien bayi. Makanya jadwal agak sedikit mundur.

Aku tau kalo sejak pagi ayah sudah bolak balik nengokin bunda dan aku. Ayah masih belum melihat keadaanku dari pertemuan pertama semalam. Ayah pasti cukup lelah, karena ruanganku ada di lantai 2 sementara bunda masih diruang transisi di lantai 3. Ayah harus naik turun tangga untuk bisa melihat keadaanku dan bunda. Tapi aku senang melihat ayah yang gigih. Hampir setiap setengah jam sekali ayah bolak balik ke ruanganku dan nanyain suster kapan aku bisa keluar. Sayangnya hingga pukul 12.00 aku juga belum bisa keluar.

Setelah makan siang, sekitar jam 12 siang ayah izin ke bunda untuk pulang dan istirahat. Sekaligus mengambil beberapa perlengkapan bunda yang diperlukan. Pukul 2 bunda dipindahkan dari ruang transit ke ruang perawatan 1003. Aku juga sudah keluar dari ruang inkubator dan sekarang sudah di ruang perawatan bayi. Duuh, banyak banget temen-temen kecilku. Berisiiik, soalnya banyak yang suka pada nangis. Duuh.

Detik yang Menentukan

Filed under: Uncategorized
Ayah mengurus berkas-berkas yang harus di tanda tangani, termasuk persiapan rawat inap dan penanda tanganan beberapa perjanjian dengan pihak rumah sakit. Ayah kembali menemui dokter untuk penandatanganan persetujuan  operasi. Dan dokter mengatakan bahwa proses operasi bunda akan dilakukan sekitar jam 2. Sementara bunda masih diruang persiapan operasi bersama aku. Menjelang detik-detik yang menentukan itu, ayah menghampiri bunda. Menggenggam kuat tangannya untuk memberikan keyakinan dan mengecup keningnya sebagia tanda cinta dan sayang. Tidak lupa ayah mengambil foto bunda untuk dokumentasi kenang-kenangan sesaat sebelum operasi.
 
Tidak bisa dipungkiri kalau kecemasan nampak di raut wajah ayah, sementara bunda sudah pasrah kepada Yang Maha Kuasa. Akhirnya waktunya pun tiba. Dengan dibantu 2 orang suster, bunda dan aku dipindahkan ke ruang operasi bedah. Ayah mengikuti kami dari belakang. Sampailah di pintu masuk ruang operasi tersebut. Karena proses persalinan bunda harus dengan jalan operasi maka terpaksa ayah tidak bisa menemaninya sampai di dalam. Ayah hanya berdiri terpaku di depan ruang operasi dengan perasaan yang berkecamuk dan bibirnya yang berdzikir melantunkan do’a kepada Allah SWT.
 
Beberapa keluarga penunggu pasien berserakan tidur di ruang tunggu yang seharusnya digunakan untuk keluarga penunggu pasien operasi. Terpaksa ayah berdiri bersandar didinding, ditemani seorang security dan beberapa orang keluarga pasien yang dioperasi sesaat sebelum giliran bunda. Meski orang-orang tersebut mencoba menghibur dan mengajak ayah bercanda, namun disela-sela obrolan itu ayah terdiam dan cemas. Ruang ber AC yang sebenarnya cukup dingin terlebih saat dini hari itu, tak mampu menahan butiran-butiran keringat yang keluar dari kening ayah. Tak henti-hentinya ayah pun memanjatkan do’a agar diberikan keselamatan baik buat aku maupun untuk bunda.
 
Waktu berjalan demikian lambat. Kecemasan mendorong ayah untuk menelpon nenek yang mungkin masih terlelap dalam tidur. Setengah jam kemudian pun nenek ditemani om Mail tiba di rumah sakit. Wajah mereka juga cemas. Waktu menunjukkan pukul 02.00 WIB. Suster dari ruang operasi memanggil suami pasien Ny. Euis. Ayah pun bergegas masuk diikuti nenek. "Anak Bapak, perempuan dan sehat. Silahkan kalau mau di-adzani dulu" demikian kata suster. Perasaan bahagia luar biasa membuncah dalam dada ayah. Mata ayah berbinar dan berkaca-kaca menatapku yang terbaring diam dalam kereta dorong khusus bayi.
 
Suster membukakan kaca penutup, dan ayah mulai melantunkan suara yang indah…
 
Ditelinga kananku, ayah melantunkan..
 
"Allahu akbar.. Allhu akbar.."
"Allahu akbar.. Allhu akbar.."
"Asyhadualla illaaha illallahu.."
"Asyhadualla illaaha illallahu.."
"Asyhaduanna muhammadarrasulullah.."
"Asyhaduanna muhammadarrasulullah.."
"Hayya’alashsholaah.."
"Hayya’alashsholaah.."
"Hayya’alalfalaah…"
"Hayya’alalfalaah…"
"Allahu akbar.. Allhu akbar.."
"Lailaha illallah.." 
 
Dan di telinga kiri Ayah kumandangkan iqomah, 
 
"Allahu akbar.. Allhu akbar.."
"Asyhadualla illaaha illallahu.."
"Asyhaduanna muhammadarrasulullah.."
"Hayya’alashsholaah.."
"Hayya’alalfalaah…"
"Qodqo matisholah, qodqomatishsholah.." 
"Allahu akbar.. Allhu akbar.."
"Lailaha illallah.." 
 
Indah sekali rasanya.. Subhanallah, Allahu akbar. Makasih Ayah.
 

April 17, 2007

Malam itu!

Filed under: Uncategorized

Lobi tunggu pasien Dr. Mimi di RS. Sari Asih itu sudah semakin sepi. Pasien dokter praktek di ruangan-ruangan lainpun sudah habis, bahkan ruang prakter dokter-dokter tersebut sudah tampak gelap karena memang sudah tidak ada sama sekali aktivitas. Ruang lobi yang terletak dilantai dua itu terasa semakin larut, bola lampu istirahat sudah mulai dinyalakan di ujung-ujung ruangan sementara lampu-lampu penerang hampir semuanya telah di matikan. Tampak beberapa suster jaga sudah menelungkupkan wajahnya di atas meja informasi.

Hanya beberapa pasien saja yang masih duduk menunggu dengan didampingi suami dan anak-anaknya. Beberapa pasien sudah nampak kusut dan pasrah mengingat jam sudah menunjukkan pukul 23.30 WIB. Memang sudah cukup larut. 

"Nyonya Euis Siti Nur Aisyah..!" Suara suster terdengan cukup nyaring di tengah-tengah heningnya beberapa suami pasien yang setia menunggu istrinya sedang diperiksa diruangan dokter. Memang ini adalah panggilan yang terakhir karena nomor urut bunda memang nomor terakhir. Bunda pun memasuki ruang pemeriksaan. Dua orang pasien yang sudah masuk terlebih dahulu sudah selesai dan keluar dari ruangan. Tak berapa lama kemudian terdengar panggilan suster "Tuan Risyanto.." dengan suara yang cukup lirih mengingat sudah tidak ada lagi pasien yang tersisa.

Ayah pun masuk menyusul bunda. Di dalam ruang periksa itu masih terdapat dua pasien selain bunda. Sedang bunda sudah berbaring di ruang USG yang lokasinya lebih dalam dengan tersekat tirai terpisah dari ruang sebelumnya. Dokter kemudian masuk. Dan bunda segera di periksa USG. Hasilnya tidak jauh dari hasil USG di Puskesmas pagi tadi. Dokter bilang kondisi ketuban memang tinggal sedikit dan plasenta sudah mulai mengalami pengapuran.  Meski posisiku sudah cukup bagus dan ukuran pinggul bunda juga memadai untuk jalan persalinan normalku, dokter bilang harus ada pemeriksaan tambahan. Karena posisi kepalaku masih jauh untuk sampai ke pembukaan. Pemeriksaan yang dokter maksud adalah pemeriksaan amplitudo detak jantungku, apakah masih bagus dan kuat untuk beberapa hari ataukah sebaliknya.

Waktu sudah melewati tengah malam, dan hari pun sudah berganti. Pukul 00.30 dini hari bunda menjalani pemeriksaan. Rasa penat dan kantuk terkalahkan dengan suasana hati yang pasrah bercampur cemas. Ayah yang mengurus pembayaran di kasir pun tidak kalah cemasnya dibanding bunda.

Dokter memanggil ayah ketika jam sudah menunjukkan pukul 00.50. Dokter bilang bahwa hasil analisa detak jantungku sudah lemah. Meski masih dalam range normal, namun pola grafik amplitudo denyut jantungku sudah mengikuti pola menjelang datar. Kondisi sudah kritis. Dan aku harus segera mendapat pertolongan untuk segera dikeluarkan dari rahim bunda. Di akhir keterangannya, Dr. Mimi bilang "anak bapak statusnya GAWAt JANIN dan harus segera di CAESSAR. Gimana, Bapak setuju?"

Perasaan berkecamuk dibenak ayah. Antara percaya dan tidak percaya. Ayah menyedari, harus ada keputusan yang cepat untuk menyelamatkan aku dan bunda. Dokter menangkap raut wajah gelisah ayah, dan dokter pun mempersilahkan ayah menemui bunda yang saat itu sudah masuk ruang perawatan untuk dibantu dengan oksigen karena sempat sesak nafas.

Kulihat ayah dengan langkah pelan memasuki ruangan dimana aku dan bunda tidur berbaring dengan selang oksigen di hidung bunda. Perlahan ayah mencium kening bunda. Dan ayah ceritakan semua pembicaraan ayah dengan dokter. Dengan mata berkaca-kaca, bunda menggeleng. Bunda ingin persalinan normal. Ayah pun meyakinkan bunda, bahwa dalam kondisi kritis seperti ini dimana tidak ada satu orang lain pun yang bisa dimintai pendapat, sedangkan malam sudah larut dan tidak mungkin melibatkan orang lain, maka kepada siapa lagi bisa menaruh kepercayaan selain kepada dokter yang telah merawat bunda sejak 6 bulan yang lalu? "Bunda, ini masalah nyawa. Apa pun harus kita lalui meski harus caessar. yang penting Bunda dan Salwa bisa selamat." Air mata sedikit meleleh dipipi bunda, dan akhirnya dengan bismillah dan memohon pertolongan dari Allah, bunda pun mengangguk.

Setelah mengelus kening bunda, ayah pun bergegas keluar menemui dokter. Ayah bilang "Dokter, kami setuju, insya Allah."

Hari Terakhir

Filed under: Uncategorized

Pagi ini ayah mengantar bunda ke Puskesmas. Seraya berangkat menuju tempat kerja, pukul 07.30 WIB, ayah turnkan bunda tepat di pintu gerbang Puskesmas Karawaci Baru. Ayah pun langsung jalan menuju kantornya. Sedangkan bunda masuk ke ruang pendaftaran pasien.

Hari ini bunda dapat nomor giliran agak pertengahan, hingga pada gilirannya, bunda diperiksa oleh petugas kesehatan yang sudah stand by di ruang USG. Layar di alat USG itu menampilkan data data yang menunjukkan kalo air ketuban dalam rahim bunda sudah keruh, hanya tinggal sedikit saja bagiannya yang jernih. Tentu kondisi ini mengindikasikan bahwa keadaanku mulai tidak aman. Namun dari analisa detak jantungku, petugas kesehatan itu mengatakan bahwa denyut jantung aku masih cukup baik dan relatif kuat untuk beberapa hari.

Bunda pun akhirnya pulang, dan mampir di rumah nenek yang memang tidak jauh dari Puskesmas tersebut. Dari rumah nenek, bunda menelpon ayah untuk menginformasikan hasil pemeriksaanku tadi di Puskesmas. Aku bisa merasakan bahwa di seberang sana ayah tampak cemas. Mungkin ayah merasa, bahwa kondisiku sudah kurang aman untuk berlama-lama lagi dalam kandungan.

Dan ayah pun bersiap-siap mengatur izin pekerjaannya untuk mendampingi bunda pada saat-saat yang kritis seperti ini. Pulang dari kantor, ayah mampir di RSIA Annisa Cibodas untuk bersiaga dan mencari informasi pelayanan persalinan beserta dengan prediksi biayanya. Sementara siang harinya bunda dengan ditemani nenek survey ke RSUD Tangerang untuk melihat kondisi kenyamanan persalinan di tempat tersebut jika memang persalinan bunda harus di rumah sakit.

Ayah dan bunda sudah sepakat ingin persalinan normal meski tanda-tanda pembukaanku sama sekali belum terlihat. Hingga detik-detik terakhir ini bunda belum merasakan mual dan mules, tanda-tanda yang biasa dialami wanita yang hendak mendapati persalinan. Karenanya, malam hari pukul 20.00 WIB dengan di antar ayah, bunda memeriksakan kehamilannya di bidan AI Kartika yang letaknya cukup dekat dari rumah, dengan harapan ada titik terang kapan aku harus lahir dengan normal meski bunda belum mengalami pembukaan. Bidan yang memang sudah sejak dua bulan lalu bunda datangi sebagai pihak kedua yang merawatnya secara rutin disamping Dr. Mimi dari RS. Sari Asih. Apalagi bunda sangat ingin persalinan normal di rumah bersalin bidan tersebut. Disamping jaraknya yang sangat dekat dari rumah, tempatnya juga nyaman dan tenang. 

Konsultasi terakhir di tempat bidan tersebut tidak mendapatkan hasil signifikan. Bidan ragu untuk melakukan tindakan dengan kondisi kandungan yang lewat waktu cukup lama dan sama sekali belum adanya pembukaan. Akhirnya pihak bidan merekomendasikan untuk analisa terakhir dari dokter spesialis yang biasa merawat bunda. Apabila hasil akhir alisa dokter cukup aman untuk persalinan normal, maka kapan pun pihak bidan siap membantu proses persalinan. Kalaupun sebaliknya, maka dokter spesialis lebih tahu tindakan yang tepat buat bunda dan aku.

Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Dr. Mimi kebetulan praktek pada malam hari ini. Jika menunda setelah malam ini, maka harus menunggu beberapa hari lagi sementara keadaanku belum jelas diketahui secara medis. Ayah memaksakan untuk langsung periksa malam ini juga. Dipencetnya nomor telpon RS.Sari Asih, dan menanyakan apakah masih bisa mendaftar untuk pasien Dr. Mimi. Karena rumah yang cukup dekat, asisten Dr. Mimi mempersilahkan ayah dan bunda untuk segera mendaftar. Meluncurlah ayah dan bunda ke RS. Sari Asih dengan menunggangi motor Satria kesayangan ayah.

Setelah melakukan regristrasi, diketahui bahwa bunda mendapat antrian nomor 53. Padahal jam dinding sudah menunjukkan pukul 21.30 malam, sementara pasien yang baru ditangani Dr. adalah pasien dengan nomor 14. Harus sabar menunggu. Aku pun ikut sabar menunggu.

April 16, 2007

Saat-Saat Penantian

Filed under: Uncategorized

Saat ini, adalah hari-hari terakhir yang menentukan. Waktu yang sudah aku tunggu-tunggu sekian lamanya. Hari ini usaiku di dalam kandungan Bunda sudah memasuki hari ke-9 lewat dari tanggal perkiraan yang di tetapkan oleh Dr. Mimi, dokter baik hati yang merawat sejak usiaku 4 bulan dalam rahim Bunda. 

Bagiku kondisi ini adalah antara enggan dan ingin. Aku merasa enggan keluar dari rahim Bunda karena di dalam sana aku merasa nyaman, damai, dan hangat. Aku tidak perlu repot untuk mencukupi kebutuhan perutku baik makanan maupun minuman. Aku biasa makan ice cream ketika Bunda makan ice cream, aku juga minum susu ketika Bunda minum susu, bahkan aku makan pisang goreng saat bunda juga memakannya. Aku juga tidak perlu repot berselimut karena rahim bunda terasa nyaman dan hangat. Plasenta yang mengikat aku dan Bunda sudah mencukupi kebutuhanku lebih dari cukup.

Namun, yang membuat aku ingin segera keluar adalah rasa kangenku untuk melihat wajah Bunda dan Ayah. Bunda yang sabar menggendongku kemana-mana, Bunda yang menjaga aku dari apa saja, Bunda yang mengajarkan Al-Qur’an, Bunda yang sering mengajakku bicara dan bercanda. Ayah yang sering mengelusku lewat perut Bunda yang makin membesar seiring ukuran tubuhku yang bertambah besar. Ayah yang sering mengajak aku bermain, ayah yang juga membacakan ayat-ayat Al-Karim, ayah yang suka mengecup aku dengan kecupannya yang penuh cinta kasih dan kerinduan.

Sering kali dari dalam kandungan ini aku menatap wajah Ayah dan Bunda yang bercampur cemas dan bahagia. Bahagia karena penantian panjangnya akhirnya berbuah berkat karunia Allah SWT. Dua setengah tahun adalah waktu yang tidak sebentar buat menjalani penantianku sejak mereka berjanji saling mencintai dalam pernikahan, 4 Januari 2004 silam. Tidak terhitung ikhtiar yang mereka lakukan, dan tidak sedikit biaya yang dikeluarkannya untuk kehadiran buah hati.

Cemas karena mereka khawatir apakah aku bisa melewati saat-saat transisi ini dengan lancar dan selamat. Cemas memikirkan apakah aku akan terlahir dengan sempurna atau sebaliknya. Cemas apakah Bunda bisa melalui persalinan tanpa halangan. Semua kecemasan itu tampak jelas bercampur aduk di wajah mereka.

Walau aku kangen dan rindu sama Ayah dan Bunda namun sedikit saja gerakanku pasti akan membuat Bunda kesakitan. Doronganku sekecil apa pun bisa membuat Bunda mencucurkan keringat dingin. Aku tidak tega.  Dan akhirnya aku memilih diam, dan hanya menyambut lambaian mereka lewat tonjokan tanganku lewat dinding perut Bunda.Aku ragu.